Selasa, 11 Maret 2014

Pendekatan pengembangan kurikulum

Beberapa pendekatan-pendekatan pengembangan kurikulum, di antaranya :

  • Pendekatan Bidang Studi
    Pada pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya: matematika, sain, sejarah, geografi, atu IPA, IPS, dan sebagainya seperti lazim yang kita dapati dalam system pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas.
  • Yang di utamakan dalam pendekatan ini adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuai denngan falsafah realisme.
  • Pendekatan Interdisiplioner
    Beberapa pendekatan interdisipliner dalam pengembangan kurikulum, yaitu
  • Pendekatan “Broad – Field”
    Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan bagian integrnal dari kehidupan manusia.
    Pendekatan broad – field ini juga dapat digunakan agar siswa memahami hubungan yang kompleks antara kejadian-kejadian didunia, misalnya antara perang Vietnam dan Korea dengan kebangkitan ekonomi Jepang, antara perang irak – iran dengan harga minyak bumi di Indonesia, dan lain-lain.
    Pendekatan broad field cenderung menganut idealism, akan tetapi banyak mengandung unsur-unsur relisme.
  • Pendekatan kurikulum inti (Core Curriculum)
    Kurikulum ini banyak persamaannya denngan kurikulum broad – field, karena juga menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah social atau personal. Untuk memecahkan masalah itu digunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah itu.
    Kurikulum ini berusaha menghilangkantembok pemisah yang tak wajar antara berbagai disiplin ilmu agar siswa dapat menerapkan secara fungsional pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dari berbagai disiplin ilmu guna memecahkan masalah social personal masa kini.
  • Pendekatan kurikulum inti di perguruan tinggi
    Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum perguruan tinggi. Dengan “core” dimaksud pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar dan juga pengetahuan umum ini layak dimiliki tiap mahasiswa lepas dari jurusan yang dipilihnya.
  • Pendekatan kurikulum Fusi
    Kurikulum ini menfusikan atau menyatuka dua (atau lebih) disiplin tradisional menjadi bidang studi baru, misalnya: georafi + geologi + botani + arkiologi menjadi earth sciences.
    Semua pendekatan interdisipliner ini mempunyai tujuan yang sama, yakni mengajar belajar lebih relevan dan bermakna serta lebih mudah dipahami dalam konteks kehidupan kita.
  • Pendekatan Rekonstruksionisme
    Pendekatan ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polisi, ledakan penduduk, rasialisme, interdependensi global, kemiskinan, malapetaka akibat kemajuan teknologi, perang dan damai, keadilan social, hak asasi manusia, dan lain-lain.
    Dalam gerakan Rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangnannya tentang kurikulum, yakni
    Rekonstruksionisme konservatif
  • Aliran ini menginginkan agar pendidikan di tujukan kepada peningkatan mutu kehidupan induvidu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
  • Rekonstruksionalisme radikal
    Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan merugikan rakyat kecil yang merupakan mayoritas masyarakat.
  • Pendekatan Humanistik
    Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student centered”, dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emonsional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberikan hasil maksimal.