Sabtu, 01 Februari 2014

Resiliensi pada penderita kanker

Keyakinan positif berhubungan dengan penyakit fisik dalam hal mengembangkan perilaku yang lebih sehat.  Individu yang memiliki pemahaman yang positif akan makna dirinya, yakin terhadap kontrol dirinya, dan optimis akan masa depan, akan lebih cenderung melakukan kebiasaan yang sehat dengan bersungguh-sungguh.  Hubungan antara keyakinan positif dan penyakit berpangkal dari fakta bahwa keadaan emosi yang positif diyakini berhubungan dengan hubungan sosial yang baik (Taylor dan Brown, 1988, dalam Taylor, 2000).

Optimis, keyakinan terhadap pemahaman kontrol diri akan lebih memiliki dukungan sosial, atau menjadi lebih efektif dalam pengerahan selama stress (Taylor dan Brown, 1994, dalam Taylor, 2000).  Optimis, pemahaman akan kontrol diri, dan self esteem berhubungan dengan usaha pemecahan masalah secara aktif (Aspinwall dan Taylor, 1997; Taylor dkk, 1992, dalam Taylor, 2000), yang memungkinkan individu untuk berhati-hati atau mengimbangi peristiwa yang menekan sebelum seluruh implikasinya terasa. 

Kemampuan itu untuk menanggulangi secara aktif dan proaktif dengan menghargai kesehatan, akan meminimalkan pengaruh psikologis yang merugikan dari stress.  Mood, depresi, perilaku yang sehat, dan hal lain yang secara potensial mendukung faktor psikososial, menjelaskan hubungan antara proses kognitif, pencarian makna, dan perkembangan penyakit.  Banyak fakta yang menyebutkan bahwa kemampuan untuk mancari makna dalam peristiwa yang menekan atau traumatis, termasuk sakit yang berat, biasanya memberikan penyesuaian psikologis (Mendola, Tennen, Affleck, McCann, dan Fitzgerald, 1990; Schwartzberg, 1993; Thompson, 1991, dalam Taylor, 2000).

Banyak fakta mengindikasikan bahwa akibat positif dari peristiwa yang menekan adalah pencarian makna hidup, mengembangkan cara pemecahan masalah yang lebih baik, meningkatkan sumber daya sosial individu, membuat prioritas penting, dan menghargai nilai dari hubungan sosial (Leedham dkk, 1995; Petrie dkk, Rose dkk, 1995; Shifren, 1996, dalam Taylor, 2000).  Hal yang menentukan individu mampu merespon peristiwa yang traumatis atau menekan, tanpa keputusasaan, depresi, dan kehilangan tujuan atau makna, adalah dengan resiliensi dan memperbaharui pemahaman akan makna.

Persepsi manusia normal, dengan ciri-ciri pemahaman positif tentang diri, pemahaman akan kontrol diri, dan optimis, memandang masa depan, menunjukkan sumber daya yang bukan saja membantu individu mengelola pasang surut kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengasumsikan arti khusus yang membantu individu mengatasi dengan sangat, peristiwa yang menekan dan mengancam jiwa (Taylor, 1983; Taylor dan Brown, 1988, dalam Taylor, 2000).  Pada kasus penyakit yang mengancam jiwa, sumber daya tersebut adalah sebagai penyangga melawan kenyataan keparahan penyakit dan kematian pada akhirnya, dimana individu menghadapi berbagai pengalaman tidak hanya dengan sumber psikologis yang berguna, tetapi juga dengan sumber resiliensi.
  
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penderita kanker memiliki resiliensi yang baik, bila memiliki kontrol diri yang baik, optimis, memiliki cara pemecahan masalah yang baik, menghargai nilai dari hubungan sosial, dan memiliki pemahaman akan makna hidup.