Minggu, 02 Februari 2014

Masalah penyesuaian sosial siswa

Mappiare (1982: 92-93) mengemukakan hal-hal penting dalam perkembangan pribadi, sosial dan moral remaja yaitu sebagai berikut.

Pertama; masa remaja merupakan masa yang kritis bagi pembentukan kepribadiannya. Kritis, disebabkan karena sikap, kebiasaan dan pola perlakuan sedang dimapankan, dan ada atau tidak adanya kemapanan itu menjadi penentu apakah remaja yang bersangkutan dapat menjadi dewasa dalam artian memiliki keutuhan atau tidak.  Kedua; penerimaan dan penghargaan secara baik orang-orang sekitar terhadap diri remaja, mendasari adanya pribadi yang sehat, citra diri positif dan adanya rasa percaya diri remaja. Demikian pula, pribadi sehat, citra diri positif dan rasa percaya diri yang mantap bagi remaja menimbulkan pandangan (persepsi) positif terhadap masyarakatnya, sehingga remaja lebih berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Ketiga; kemampuan mengenal diri sendiri disertai dengan adanya usaha memperoleh citra diri yang stabil, mencegah timbulnya tingkah laku yang over kompensasi ataupun proyeksi, sekaligus dapat menanamkan moral positif dalam diri remaja.

Siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan segala kondisi dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Tetapi, tidak semua siswa selalu berhasil dalam proses penyesuaian sosial. Banyak masalah-masalah yang muncul dihadapi siswa seiring dengan proses perkembangannya yang berlangsung sepanjang hayat.

Abin Syamsuddin (2000:137) mengemukakan mengenai masalah-masalah yang dihadapi remaja berkaitan dengan segala aspek perkembangannya yaitu sebagai berikut.

  • Munculnya kecanggungan-kecanggungan dalam pergaulan akibat adanya perbedaan dalam perkembangan fisik; munculnya sikap penolakan diri (self rejection) akibat  body imagenya tidak sesuai dengan gambaran diri yangsesungguhnya; timbulnya gejala-gejala emosional tertentu seperti perasaan malu karena adanya perubahan suara (laki-laki) dan peristiwa menstruasi (perempuan); munculnya prilaku-prilaku seksual yang menyimpang pada remaja yang tidak terbimbing oleh norma.
  • Munculnya sikap  negatif terhadap pelajaran dan guru bahasa asing tertentu pada remaja yang mengalami kesulitan dan kelemahan dalam mempelajari bahasa asing; timbulnya masalah underachiever (remaja yang memiliki prestasi di bawah kapasitasnya) atau  inferiority complex (rasa rendah diri) pada remaja yang tidak pernah tuntas.
  • Timbulnya masalah  juvenile delinquency ketika keterikatan hidup dalam gang (peers group)  tidak terbimbing; tidak senang di rumah bahkan  minggat ketika terjadi konflik dengan orang tua.
  • Mudah sekali digerakkan untuk melakukan kegiatan destruktif yang spontan untuk melampiaskan ketegangan emosionalnya; ketidakmampuan menegakkan kata hatinya membawa akibat sukar menemukan identitas pribadinya.