Minggu, 02 Februari 2014

Aspek penyesuaian sosial siswa di lingkungan sekolah

Penyesuaian sosial siswa di sekolah diartikan sebagai kemampuan siswa mereaksi secara tepat realitas sosial, situasi, dan relasi sosial, sehingga mampu berinteraksi secara wajar dan sehat, serta dapat memberikan kepuasan bagi dirinya dan lingkungannya (Schneiders, 1964: 454).

Sekolah merupakan miniatur sosial bagi siswa, maka  sekolah memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk membentuk suatu  lingkungan sosial yang konstruktif dan kondusif bagi siswa, sehingga sekolah mampu mengantisipasi penyimpangan sosial-psikologis siswa. Di sekolah siswa tidak hanya mengalami perkembangan fisik dan intelektualnya saja, tetapi  juga membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk bersosialisasi agar mencapai kematangan sosial dalam mempersiapkan dirinya menjadi orang dewasa yang memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang memadai.

Yusuf (2007: 95) mengungkapkan bahwa sekolah sebagai salah satu lingkungan sosial tempat individu berinteraksi, harus mampu menciptakan dan memberikan suasana psikologis yang dapat mencapai perkembangan sosial secara matang, dalam arti dia memiliki kemampuan penyesuaian sosial (social adjustment) yang tepat.

Tuntutan dan realitas kehidupan sosial di sekolah akan direaksi secara berbeda-beda oleh masing-masing siswa, tergantung kemampuan penyesuaian sosial yang dimilikinya. Schneiders (1964: 454) mengemukakan bahwa penyesuaian sosial yang dituntut dalam kehidupan sekolah, dengan tidak mempertimbangkan kebutuhan akademik, tidak jauh berbeda dengan penyesuaian sosial di lingkungan rumah dan keluarga, walaupun setiap individu akan bereaksi secara berbeda terhadap keduanya. Selain itu, Schneiders (1964: 454) telah menyusun tuntutan lingkungan atau perilaku yang diharapkan dan yang berkaitan dengan realitas, situasi, dan relasi sosial, serta dihadapi oleh siswa di lingkungan sekolah, yang meliputi aspek-aspek dan indikator-indikator berikut:

Kemampuan siswa menjalin hubungan persahabatan dengan teman di sekolah.

  • Dalam aspek ini terdapat enam indikator, yaitu:
    • Siswa mampu menerima teman apa adanya
    • Kemampuan siswa mengendalikan emosi.
    • Kemampuan siswa bertanya terlebih dahulu.
    • Kemampuan siswa bersikap realistis.
    • Kemampuan siswa melakukan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
    • Siswa mampu melakukan tindakan yang tepat sesuai norma.
    • Kemampuan siswa mempertahankan hubungan persahabatan.
Kemampuan siswa bersikap hormat terhadap guru, kepala sekolah, dan staf sekolah lainnya. Dalam aspek ini terdapat empat indikator, yaitu:
  • Siswa berbicara dengan volume suara yang lebih rendah daripada guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain.
  • Kemampuan siswa bertuturkata dengan sopan dan santun ketika berkomunikasi dengan guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain.
  • Kemampuan siswa dalam menjaga sikap ketika bertemu  dengan guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lain.
Partisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah. Dalam aspek ini, terdapat dua indikator, yaitu:
  • Partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
  • Partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah. Dalam aspek ini terdapat dua indikator, yaitu:
  • Memiliki kesadaran akan pentingnya peraturan di sekolah.
  • Mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku di sekolah.