Rabu, 01 Januari 2014

Manfaat dan resiko reksadana bagi investor

Reksadana memiliki manfaat bagi investor, antara lain: (Bodie, Zvi, Alex Kane & Alan J. Marcus, Op.Cit., Hal. 75)

  • Terdapat akses untuk melakukan investasi pada instrumen-instrumen investasi yang sulit dilakukan sendiri seperti saham, obligasi, dan lainnya.
  • Jumlah dana yang dibutuhkan untuk investasi relatif kecil
  • Prosedur investasi sangat mudah
  • Biaya transaksi murah
  • Adanya kesempatan untuk melakukan diversifikasi investasi yang sulit dilakukan sendiri, misalnya karena keterbatasan dana yang dimiliki investor.
  • Pengelolaan investasi pada portofolio reksadana dilakukan secara profesional oleh manajer investasi yang telah berpengalaman serta administrasi investasi yang dilakukan oleh bank kustodian sehingga investor relatif terbebas dari pekerjaan menganalisa, memonitor serta mengelola administrasi investasi yang rumit.
  • Hasil investasi dari reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif bukan merupakan objek pajak karena kewajiban pajak telah dipenuhi oleh reksadana.
  • Likuiditas upaya reksadana tergolong tinggi karena reksadana dapat dibeli dan dicairkan setiap hari bursa melalui manajer investasi.
Disamping manfaat diatas, investor juga perlu mengetahui sejumlah resiko yang dihadapi reksadana, yaitu: (Eko Priyo Pratomo & Ubaidillah Nugraha, Op.Cit., Hal. 84)
  • Resiko berkurangnya nilai unit penyertaan = Resiko ini dipengaruhi oleh melemahnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang termasuk dalam portofolio investasi reksa dana tersebut.
  • Resiko likuiditas = Resiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer lnvestasi jika sebagian besar pemegang unit penyertaan reksa dana menjual kembali (redemption) unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi akan mengalami kesulitan untuk menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.
  • Resiko wanprestasi = Merupakan resiko terburuk, dimana timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksa dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah daripada nilai pertanggungjawaban saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari perusahaan investasi atau manajer investasi, bank kustodian, agen pembayaran, bencana alam dan sebagainya.