Minggu, 26 Januari 2014

Definisi dan bentuk kekerasan

Definisi Kekerasan adalah perilaku yang bertentangan dengan kelembutan dan sesuatu yang natural

Bentuk kekerasan

  • Penganiayaan Fisik
    Yaitu cedera fisik sebagai akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.
  • Kelalaian
    Kelalaian ini selain tidak sengaja, juga akibat dari ketidak tahuan atau kesulitan ekonomi.
  • Bentuk kelalaian ini antara lain yaitu :
    • Pemeliharaan yang kurang memadai, yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh  (failure to thrive), anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
    • Pengawasan yang kurang, dapat menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa.
    • Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan meliputi : kegagalan merawat anak dengan baik misalnya imunisasi, atau kelalaian dalam mencari pengobatan sehingga memperburuk penyakit anak.
    • Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkannya atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
  • Penganiayaan emosional
    Ditandai dengan kecaman kata-kata yang merendahkan anak, atau tidak mengakui sebagai anak. Keadaan ini sering kali berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasikan anak dari lingkungan atau hubungan sosialnya atau menyalahkan anak secara terus menerus.
  • Penganiayaan seksual
    Mengajak anak untuk melakukan aktivitas seksual yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, dimana anak tidak memahami/tidak bersedia.
    Aktivitas seksual dapat berupa  semua bentuk oral genital, genital, anal, atau sodomi.  Penganiayaan seksual ini juga termasuk incest yaitu penganiayaan seksual oleh orang yang masih ada hubungan keluarga.
  • Sindrom Munchausen
    Sindrom ini merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dan pemberian keterangan palsu untuk menyokong tuntutan. Hal ini biasanya di lakukan orang tua karena ingin menutupi kejadian yang sebenarnya (Soetjiningsih, 1998:164).