Rabu, 29 Januari 2014

Ciri ciri kecerdasan spritual

Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons (dalam Juita), The Psychology of Ultimate Concerns:

  • Kemampuan untuk mentransendensikan  yang  fisik dan  material.
  • Kemampuan untuk mengalami tingkat  kesadaran yang memuncak.
  • Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari.
  • Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah.
  • Kemampuan untuk berbuat baik.
Dua  karakteristik  yang  pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia  memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya.

Ciri yang ketiga yaitu sanktifikasi pengalaman sehari-hari akan terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Misalnya: Seorang wartawan bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang  mengangkut  batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan  muka  cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan  ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda  kerjakan? “Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.”Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun katedral!” Yang kedua  telah  mengangkat  pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.

Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya  secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna  kehidupan secara spiritual yaitu melakukan hubungan dengan pengatur kehidupan. Contoh: Seorang anak diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan  sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa  kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia  akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang  bersungguh-sungguh dijalan  Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”? anak tersebut memiliki karakteristik  yang keempat.

Tetapi anak tersebut juga menampakkan karakteristik yang ke lima memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk. Tuhan. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap  rendah  hati, menunjukkan kasih sayang dan  kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan  Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.” (Leny Juwita, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak, (online), ( www.mail-archive.com/airputih@yahoogroup.com, artikel lepas Yayasan Muthahari, Akses 21:99 Kamis 14 Desember 2006).