Senin, 16 Desember 2013

Pokok pikiran merkantilisme

Secara historis merkantilisme adalah sebuah pemikiran ekonomi yang tumbuh dan berkembang mulai abad XVI sampai dengan XVIII. Pemikiran ini mengatakan bahwa kemakmuran suatu bangsa dapat bertambah dengan lebih banyak mengekspor daripada mengimpor barang, sehingga neraca perdagangan menguntungkan bagi negara. Untuk itu, industri dalam negeri harus mendapat perlindungan, sementara ekspor harus diperbanyak dengan beragam fasilitas.

Ada beberapa pokok pikiran dari merkantilisme yang bisa dideskripsikan. Pertama, suatu negara atau raja akan makmur dan kuat apabila ekspor lebih besar dari impor. Kedua, keuntungan yang diperoleh dari selisih antara ekspor dan impor atau ekspor neto yang positif tersebut diwujudkan dengan pemasukan logam mulia (emas dan perak) dari luar negeri. Ketiga, saat itu logam mulia digunakan sebagai alat pembayaran sehingga negara atau raja yang memiliki logam mulia yang banyak akan makmur, kaya dan kuat.

Saat itu yang menerapkan merkantilisme adalah Raja Karel V (Spanyol), Elizabeth (Inggris), Prinsmauritz (Belanda), dan Louis XIV (Prancis). Merkantilisme yang diterapkan di Prancis dikembangkan oleh Jean Baptiste Colbert sehingga dikenal dengan Colbertisme. Di Inggris, pemerintah memberikan hak-hak monopoli kepada perusahaan dagang. Misalnya East India Company (EIC) di Asia. Sedangkan di Belanda, pemerintah memberikan hak monopoli kepada Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk menguasai perdagangan di kawasan Timur.