Sabtu, 29 Juni 2013

Menu seimbang untuk sarapan pagi

Pada hakekatnya makanan anak sama dengan makanan orang dewasa. Keduanya harus memenuhi menu 4 sehat 5 sempurna dan seimbang. Perbedaannya terletak pada rasa seperti tidak pedas dan merangsang serta bahan makanan dipilih yang mudah dikunyah dan digigit. Anak usia sekolah, dengan segudang aktivitas di luar rumah, membuat mereka kurang memperhatikan soal makan serta banyak dipengaruhi lingkungan teman sepermainan sewaktu memilih makanan ( Ratnawati, 2001 : 75 ).

Pemberian makanan seimbang diperlukan karena tubuh membutuhkan semua nutrien ( protein, hidrat arang, lemak, vitamin, mineral dan air ). Pemberian makanan yang salah dalam jumlah, jenis, komposisi, cara dan proses memasak dapat mengakibatkan keadaan gizi salah ( malnutrisi ), baik kekurangan ( kurang energi protein) atau kelebihan ( kegemukan ). Tujuan pemberian makanan pada anak bukan sekedar membuat kenyang, tetapi untuk memenuhi kebutuhan nutrien secara adekuat untuk keperluan hidup serta mendidik anak untuk membina selera dan kebiasaan makan yang sehat ( Ratnawati, 2001 : 74 ).

Menu sarapan yang baik harus mengandung karbohidrat, protein dan lemak serta cukup air untuk mempermudah pencernaan makanan dan penyerapan zat gizinya. Karbohidrat sekalipun mengenyangkan hanya mampu mempertahankan kestabilan gula darah kira - kira 2 jam, sementara protein dua kalinya. Karena itu, bahan makanan sumber protein wajib disertakan dalam sarapan. Sumber karbohidrat tak selalu harus nasi. Pilihan lainnya juga bisa seperti roti, mi, bihun, spageti, makaroni, kentang dan  umbi - umbian ( Ratnawati, 2001 : 86 ).

Namun, bila protein diberikan secara berlebihan maka persentase karbohidrat akan menjadi lebih rendah. Misalnya, anak hanya diberi sarapan sebutir telur dan segelas susu. Konsumsi protein berlebihan, sementara karbohidrat terbatas, menjadikan kadar hormon serotin dalam otak seketika anjlok. Hingga otak memerintah kelenjar pengendalian pencernaan agar lambung terus menagih untuk diisi. Protein bisa didapat dari daging, telur, ikan, kacang - kacangan, tahu, tempe dan susu ( Ratnawati, 2001 : 86 ).

Lemak berfungsi sebagai zat tenaga atau sumber energi. Lemak dapat menghasilkan tenaga dua perempat kali lebih banyak dari karbohidrat dan protein. Namun, apabila simpanan lemak terjadi secara berlebihan sampai melebihi 20% dari berat badan normal, maka ada kecenderungan obesitas. Lemak dapat diperoleh dari minyak goring, margarine, mentega, sanatan maupun dari lemak yang tersimpan dalam makanan seperti daging, keju dan susu ( Ratnawati, 2001 : 87 ).

Sedikit serat diperlukan untuk menjaga agar kestabilan gula darah bertahan lebih lama, sehingga anak tidak mudah loyo. Serat dapat membatasi beredarnya hormon insulin dalam darah, sehingga tidak banyak gula darah yang kemudian disimpan sebagai glikogen ( Ratnawati, 2001 : 86 ).

  Selain merupakan sumber protein, serealia ( beras dan sejenisnya ) dan kacang - kacangan merupakan sumber serat yang baik. Menu sarapan akan lebih baik bila ditambahkan sayuran walaupun tidak banyak serta minuman pelengkap sarapan  seperti susu, teh agak manis, jus buah segar, air rebusan kacang hijau atau air putih masak   (Ratnawati, 2001 : 87 ).