Kamis, 13 Juni 2013

Kandungan polusi asap kendaraan bermotor

Kandungan asap kendaraan bermotor yang berbahaya pada manusia ada enam, yaitu :

  • CO ( Carbon Monoxida )
    Tidak berwarna,  tidak beraroma dan tidak mudah larut dalam air. Perbandingan berat terhadap udara (1 Atm  ͦ C) 0.967, didalam udara bila diberikan api akan terbakar dengan mengeluarkan asap biru dan menjadi CO2 (Carbon Dioxide). Berasal dari kendaraan bermotor 93%, power generator 7% terutama tempat sumbernya adalah pada kendaraan disaat idling. (Arifin, 2009 : 37).Karbon Monoksida dibuat manusia karena pembakaran tidak sempurna bensin dalam mobil, pembakaran diperindustrian, pembangkit listrik, pemanas rumah, pembakaran di pertanian dan sebagainya (Sastrawijaya, 2009 : 200).
  • HC (Hydro Carbon)
    Merupakan ikatan kimia dari karbon (C) dan Hydrogen (H). Bentuk kimianya dibagi menjadi Parafine, Naftaline, Olefine dan Aromatic N2O karena tidak aktif, tidak menjadi persoalan.
    Sumber penyebabnya diantaranya kendaraan bermotor 57%, penyulingan minyak dan generator power 43% sumber utamanya adalah gas buang dari kendaraan atau macam-macam alat pembakaran dan lain-lainnya. Seperti Refinering oil (Pengilangan minyak) karena pemakaian pelarut. (Arifin, 2009 : 38).
    Senyawa ini hanya mengandung unsur hydrogen dan karbon. Semacam senyawa yang termasuk hidrokarbon. Hidrokarbon yang dihasilkan manusia hanya sebesar 15%, yang termasuk sumber hidrokarbon hasil manuisia adalah proses perindustrian, penguapan pelarut organik, dan pembakaran sampah (Sastrwijaya, 2009 : 206).
  • NOx
    Terutama berbentuk NO, NO2, dan N2O, NOx merupakan zat gas yang tidak berwarna, tidak berbau, sukar larut dalam air, didalam udara Karena gesekan akan menjadi NO2, NO2 zat gas berwarna agak agak kemerahan dan sedikit berbau, mudah larut dalam air bereaksi dengan air menjadi asam Nitrit atau Nitrat. Sumber timbulnya adalah gas buang dari mobil, gas-gas yang timbul dari pabrik kimia serta gas las yang timbul dari bermacam-macam alat-alat pembakaran. Sumber penyebab berasal dari kendaraan bermotor 39%, pabrik, generator dan penyulingan minyak 61%. (Arifin, 2009 : 38).
    Nitrogen oksida merupakan pencemar, sekitar 10% pencemar udara setiap tahun adalah nitrogen oksida. Ada delapan kemungkinan hasil reaksi bila nitrogen bereaksi dengan oksigen. Yang jumlahnya cukuop banyak hanya tiga yaitu N2O, NO dan NO2. Yang tersangkut dalam pencemaran udara hanya NO dan NO2 (Sastrawijaya, 2009 : 203).
  • Partikulat
    Berbentuk partikel debu yang sangat kecil (± 0.01┬Ám) yang terbentuk dari senyawa-senyawa carbon dan bahankimia lain dalam proses pembakaran. Sumber penyebab diantaranya kendaraan bermotor (diesel) 50%, pabrik, generator pembangkit dan pemanas 50%. (Arifin, 2009 : 39)
  • Sulfur Dioksida
    Gas jernih tidak berwarna ini merupakan bagian dari pencemar udara, kadarnya sampai 18%. Gas ini baunya menyengat dan amat membahayakan manusia.
    Kedalam daur ulang belerang termasuk SO2, H2S dan H2SO4. Asam ini dan garamnya merupakan aerosol, yakni suspensi cairan atau padatan dalam gas Sastrawijaya, 2009 : 196).
    Pengaruh kadar SO2 yang melebihi batas yang diperbolehkan akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Gas SO2 dapat menyebabkan iritasi dan lebih dari 95% gas SO2 akan terhirup selama proses pernapasan.
    Polutan ini sangat korosif terhadap metal, karena menyebabkan hujan asam. Sumber penyebab diantaranya kendaraan bermotor (diesel) 1%, pabrik, generator, pemanas 99%. (Arifin, 2009 : 39).
  • Timah Hitam ( Pb )
    Kandungan timah hitam (Pb) dalam debu diudara umumnya merupakan hasil pembakaran bahan bakar minyak yang mengandung Tetra Ethyl Lead (TEL) yang ditambahkan guna meningkatkan nilai oktan bahan bakar. Dari spesifikasi bahan bakar minyak yang diproduksi di Indonesia, bensin premium mengandung TEL maksimal 2,5 ml/gallon atau 0,7 gr Pb/lt. intoksikasi akibat Pb, diklasifikasikan pada keracunan khronik Pb dimana para penderita yang terpapar secara terus menerus menyebabkan Pb yang terhirup akan terakumulasi dalam tubuh  sampai suatu tingkat tertentu sehingga memberikan tanda-tanda keracunan. (Arifin, 2009 : 40).