Rabu, 27 Maret 2013

Penyebab munculnya golput

Secara kondisional faktor penyebab munculnya golput di negara berkembang dan di negara maju tentunya berbeda. Sebagaimana dikemukakan Varma bahwa: “Di Negara berkembang lebih disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan hasil Pemilu yang kurang amanah dan memandang nilai-nilai demokrasi belum mampu mensejahterakan masyarakat. Kondisi ini jelas akan mempengaruhi proses demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena terjadi paradoks demokrasi atau terjadi kontraproduktif dalam proses demokratisasi”.

Caroline Paskarina mengemukakan: setidaknya ada beberapa faktor yang cukup signifikan mempengaruhinya:

  • Golput ideologis: Golput yang dilatarbelakangi sikap penolakan atas apapun produk kekuasaan khususnya dan sistem sosial politik pada umumnya. Ancaman Golput ideologis dimungkinkan lahir dari kalangan masyarakat berpengetahuan wacana sosial politik
  • Golput politik: Golput yang terjadi akibat pilihan-pilihan politik. Golongan ini adalah masyarakat yang pada umumnya terjebak pada lingkaran alienasi, yaitu perasaan terasingkan dari politik atau pemerintahan. Muncul kelompok ini bisa lahir dari kalangan kaum politisi yang gagal dalam merebut posisi tertentu dalam politik
  • Golput pragmatis: Golput yang muncul berdasarkan kalkulasi rasional bahwa aktivitas memilih tidak akan berdampak lebih baik pada diri pemilih.
Selain genre yang disebut di atas, masih ada Golput Teknis, disebabkan faktor administratif: banyak pemilih yang tidak terdaftar, tidak ada basis data kependudukan yang valid dan up to date, atau lebih memilih bekerja dibanding datang ke TPS, terutama di kalangan pekerja yang memperoleh upah secara harian.

Tolok ukur keberhasilan pemilu adalah peran serta aktif dalam pemilih di luar golput. Sebagai tolok ukur paradoksalnya (ketidakberhasilan) adalah rendahnya peranserta parpol terhadap pendidikan politik serta kekecewaan terhadap terhadap praktik politik parpol dan elit politik memberikan wacana negatif di benak pemilih.

Minimal empat faktor di mana orang enggan untuk aktif berperan dalam pemilu menurut Syamsudin Haris:
  • Kekecewaan sebagian publik terhadap parpol
  • Parpol sebagian kaya akibat money politics
  • KPU dan pengawas di daerah minim melibatkan civil society
  • Sistem pemilu yang rumit. Golput dalam pemilu bisa juga muncul karena kerumitan teknis mencoblos nomor dan atau tanda gambar dan atau nama caleg.
Dalam konteks masyarakat, politik (praktis) lebih banyak terkait dengan kekuasaan dan cara-cara meraihnya, dengan berbagai cara. Konflik kepentingan dan besarnya ambisi kekuasaan tampak jelas dalam banyaknya jumlah Parpol yang menjadi peserta pemilu. Kondisi semacam ini dikhawatirkan akan menumbuhsuburkan politik uang untuk meraih suara di kalangan akar rumput. Selain itu, ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah pusat maupun daerah akan memunculkan apatisme yang berujung pada sikap acuh-tak-acuh dan mempertinggi angka golput.

Meningkat atau menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik tertentu juga tergantung pada perilaku elit politik yang ditampilkannya selama ini. Apabila kegagalan yang dialami oleh suatu partai karena ulah partai politiknya, maka tingkat kepercayaan akan menurun, maka sebaliknya akan terjadi apabila suatu keberhasilan yang ditampilkan oleh elit partai politik, maka tingkat kepercayaannya akan meningkat.

Penilaian masyarakat ini akan mempresentasikan tentang persepsi masyarakat tentang kualitas sumber daya manusia partai politik. Hal inipun akan berakibat pula pada penilaian masyarakat tentang kemampuan partai politik dalam mengatasi masalah yang dialami oleh bangsa indonesia.

Program merupakan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat. Namun pada praktiknya, ada kontestan Pemilu yang mengusung program-program cerdas dan solusif akhirnya gagal memperoleh kursi. Hal ini karena pemilih juga melihat kepribadian kandidat dan kemampuan merealisasikan program, partai yang menaungi dan cara kandidat menyampaikan kebijakan.

Sebagian besar masyarakat teralienasi (terasing) dengan intermediasi partai politik. Artinya banyak masyarakat yang kecewa terhadap parpol. Sebab sudah muncul kekecewaan masyarakat terhadap parpol yang tidak menguasai masalah-masalah publik, seperti impor beras, BBM dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap masyarakat pesimis pada parpol.

Calon anggota legislatif mengampanyekan diri melalui berbagai sarana agar dipilih masyarakat cenderung menjadikan pemilu sebagai kontes popularitas parpol dan calegnya daripada menekankan substansi atau isi dari pemilu. Namun, yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat sebagai pemilih yang punya otonomi dapat menggunakan hak politiknya untuk memilih parpol yang sesuai dengan harapan mereka.

Selain faktor bersifat teknis seperti kisruhnya DPT yang berkaitan dengan kinerja KPU sebagai satu faktor penyebab golput. Golput lebih banyak bermuara pada protes rakyat kepada partai politik yang tidak dapat membawa kemajuan kehidupan.

Masyarakat mempunyai cara berpikir dan mentalitas tersendiri bagaimana mengukur maslahat pemilu dengan kebutuhan hidup mereka secara kritis.

Pada sisi lain, partai politik masih memandang keadaan eksistensi masyarakat yang didasarkan kepada sekedar untuk keuntungan, materi, citra, dan kompetisi tanpa ada nilai-nilai panutan yang dapat ditularkan kepada pemilihnya.