Minggu, 17 Februari 2013

Masalah dalam pendidikan budi pekerti

Pendidikan Budi Pekerti adalah proses pendidikan nilai yang akan memfasilitasi peserta didik untuk memahami berbagai persoalan nilai-nilai kehidupan, memiliki kepekaan dan komitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai dalam pengembangan pengetahuannya, dan mendorong mereka untuk selalu bertindak atau berperilaku (berpekerti) yang berlandaskan nilai-nilai budi kemanusiaan atau berbudi luhur. Perilaku berbudi di sini adalah perilaku yang dilandasi penalaran nilai yang luhur, peka terhadap apa suara hati yang paling dalam (suara hati nurani), dan perilaku itu selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian baik untuk diri sendiri maupun kebahagian orang lain bahkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk (Depdiknas, 2002).

Pendidikan Budi Pekerti dengan tujuan mulia seperti di atas  bukanlah pendidikan yang menekankan pengetahuan fakta dan konsep-konsep agama dan budi pekerti. Pendidikan Budi Pekerti semestinya adalah pendidikan nilai yang terintegrasi pada seluruh sistem pendidikan yang memberikan iklim, nuansa, semangat atau jiwa yang memungkinkan siswa menyadari sungguh-sungguh sistem nilai yang dianutnya serta bertindak atau berperilaku secara ajeg sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini kuat yang semestinya bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai agama, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Pendidikan Budi Pekerti dengan karakteristik tersebut tidak mungkin terwujud, jika guru dalam proses pendidikan hanya menekankan arti penting kecerdasan intelek yang cenderung hanya        bersifat individualistik, materialistik, sekuleristik, dan hedonistik. Pendidikan Budi Pekerti semestinyalah mampu mengintegrasikan berbagai dimensi proses dan output pendidikan. Terintegrasi muatan konsep, nilai-nilai, dan perilaku dalam konten pembelajarannya. Terintegrasi kepentingan orientasi masyarakatnya: lokal, nasional, dan global dalam rangka pembentukan kemampuan manusia untuk think globally, act locally, and commit nationally.

Terintegrasi pencapaian domain-domain tujuan pembelajarannya: kognisi, afeksi, dan keterampilannya. Terintegrasi secara holistik seluruh pemberdayaan sistem pengetahuannya: fisik, taktil, emosional, logika (intelek), sosial, seni, reflektif (kesadaran moral), dan kesadaran spiritualnya. Terintegrasi strategi pencapaiannya: mandiri, partisipatif, dan kooperatif. Terintegrasi komitmen penyatuan pemikiran, kata-kata, dan perbuatannya. Terintegrasi pemenuhan kebutuhan hakikat kemanusiaannya: sebagai makhluk biologis, individu, sosial, dan religius.

Terintegrasi tujuan-tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, ideologi, dan keberagamaannya. Terintegrasi, dinamis, dan harmonis pula aspek-aspek pengembangan kepribadiannya yang utuh: tamas, rajas, satwam, dan kesadaran atmannya. Masalahnya, sejauhmanakah kita sebagai pendidik telah mampu mengintegrasikan dan mendinamisasikan serta menyeimbangkan dan mengharmoniskan berbagai aspek proses dan output pendidikan tersebut