Selasa, 12 Februari 2013

Sila ketuhanan yang maha esa

Sila pertama ini adalah sila yang menjiwai keempat sila yang lainnya. Pada sila ini pulalah terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai pengejawantahan atau perwujudan tujuan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa .

Dengan demikian seluruh proses pelaksanaan dan penyelenggaraan negara haruslah dijiwiai dan bersumber dari sila pertama ini. Tidak hanya itu moral bangsa, moral pemimpin bangsa, politik negara, peraturan perundang–undangan, dan hak azasi warga negara haruslah bersumber dan diilhami oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini. Tidak hanya itu nilai – nilai etis religius yang dimiliki sila ini juga akan dimplementasikan dan menjiwai keempat sila – sila yang lainnya.

Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar spiritual dan moral dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bemegara untuk mencapai  cita-cita dan kehendak dalam mewujudkan kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia, serta diikuti dengan pertanggungjawaban Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan kehidupan beragama dan kepercayaan kepada Tuhan mempersyaratkan adanya toleransi. baik di dalam kelompok agama atau kepercayaan itu sendiri.

Bagaimanapun kelompok serta antara agama dan kepercayaan yang satu dengan yang Tuhan Maha Arif dan Bijaksana, memberikan banyak jalan menuju-Nya, agar masing-masing umat memilih jalan yang paling dipercaya. Jalan mana pun yang dipilih adalah sama, karena tidak ada agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tidak boleh satu agama tertentu sekalipun merupakan mayoritas.mengatasnamakan Tuhan untuk menekan, menghina, apalagi hendak menghancurkan yang lain. Jika ada gejala hal ini akan terjadi pemerintah, khususnya penegak hukum harus mengambil tindakan untuk mencegahnya atau menindaknya.

Selain itu manusia adalah homo religious. Oleh karena itu religi menjadi dasar dalam bertindak bagi manusia. Religi disini secara umum dapat diartikan sebagai suatu ikatan. Sesuai dengan makna religius  dalam religi manusia mengikat diri kepada Tuhan atau bersedia diikat di dalam  ikatan dari Tuhan. Adapun ikatan itu dituangkan dalarn kitab suci yang diibaratkan sebagai  lentera kehidupan yang menerangi jalan yang dilalui.

Hal ini sejalan dengan lambang sila Ketuhanan Yang Maha Esa,  bintang yang akan menerangi kegelapan sebagaimana diuraikan sebelumnya. Bisa juga dikatakan bahwa kitab suci itu adalah kehidupan manusia. agar mereka tidak tersesat di jalan, yang godaan dan cobaan.