Kamis, 14 Februari 2013

Modal perseroan

Dalam perseroan terbatas dikenal dengan modal perseroan. Banyak digunakan bermacam-macam sebutan dalam KUHD tentang modal perseroan, disebut modal saja (pasal 47) disebut modal perseroan (pasal 40), disebut modal persekutuan (pasal 50 dan 51) banyak lagi digunakan sebutan-sebutan lainnya seperti “modal saham” atau modal sero atau modal bersama, atau “statutoir Kapital”. Modal perseroan disebut juga modal masyarakat, yaitu jumlah modal yang disebut dalam akta pendirian dan merupakan suatu jumlah maksimum sampai jumlah mana dapat dikeluarkan surat-surat saham (Kansil,2002: 99).

Seperti yang ditentukan pasal 40 ayat 1 bahkan modal persero terdiri dari saham atau sero-sero. KUHD tidak memberikan pengertian apa yang disebut dengan saham. Secara harfiah saham adalah bagian, andil (surat sero),

Sehubungan dengan terbitnya saham dalam perseroan maka saham adalah “surat tanda bukti ikut sertanya dalam perseroan-perseroan (Latief Syafradji,1987:64). Menurut dadangsukandar.wordpress.com Modal Perseroan Terbatas (PT) terdiri dari Modal Dasar, Modal Ditempatkan dan Modal Disetor. Modal tersebut terbagi atas sekumpulan saham.

  • Modal Dasar merupakan keseluruhan nilai perusahaan, yaitu seberapa besar perusahaan tersebut dapat dinilai berdasarkan permodalannya. Penilaian ini sangat berguna terutama pada saat menentukan kelas perusahaan. Modal Dasar terdiri dari seluruh nilai nominal saham. Menurut Undang-undang perseroan Terbatas (UUPT), besarnya Modal Dasar adalah minimal Rp. 50.000.000 – undang-undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal perseroan yang lebih besar dari Rp. 50.000.000. Modal Dasar bukan merupakan modal riil, karena Modal Dasar hanya menentukan sampai seberapa kuat perusahaan tersebut dapat menyediakan modalnya – sampai seberapa besar perusahaan tersebut mampu menghimpun aset-aset dan kekayaannya.
  • Modal Ditempatkan adalah kesanggupan para pemegang saham untuk menanamkan modalnya di dalam perseroan. Jika para pemegang saham hanya sanggup memasukan modalnya sebesar 35% dari Modal Dasar, maka besarnya Modal Ditempatkan perseroan itu adalah sebesar 35%. Seperti halnya Modal Dasar, Modal Ditempatkan bukanlah modal riil karena modal tersebut belum benar-benar disetorkan. Modal Ditempatkan hanya menunjukan kesanggupan pemegang saham, yaitu sampai seberapa banyak para pemegang saham dapat menanamkan modalnya kedalam perseroan. Menurut pasal 33UUPT, besarnya Modal Ditempatkan adalah minimal 25% dari Modal Dasar.
  • Modal Disetor adalah modal perseroan yang dianggap riil karena telah benar-benar disetorkan kedalam PT. Dalam hal ini, pemegang saham telah benar-benar menyetorkan modalnya kedalam perusahaan. Besarnya Modal Disetor, menurut UUPT, adalah sebesar Modal Ditempatkan – paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar harus ditempatkan dan disetor penuh (pasal 33 ayat (1) UUPT). Penyetoran itu dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah, misalnya bukti pemasukan uang dari pemegang saham kedalam rekening bank perseroan.