Jumat, 26 Oktober 2012

Pengujian substantif untuk transaksi penjualan

Pengujian substantif untuk transaksi penjualan

  • Untuk meyakini bahwa penjualan yang dicatat benar-benar ada
  • Transaksi penjualan yang terjadi telah dicatat
  • Penjualan dicatat secara akurat
  • Penjualan yang dicatat telah diklaisifikasikan dengan semestinya
  • Penjualan dicatat pada tanggal yang tepat
  • Transaksi penjualan dicatat dengan semestinya di berkas induk dan diikhtisarkan dengan benar
  • Perancangan pengujian atas pengendalian, dan pengujian substantif transaksi penjualan tersebut berguna untuk membantu auditor dalam merancang audit program yang efektif dan efisien dalam memenuhi tujuan audit pada suatu situasi tertentu
  • Metodologi perancangan pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk penerimaan kas pada dasarnya sama dengan metode yang dikembangkan untuk penjualan.
  • Tujuan audit berkait transaksi untuk penerimaan kas dikembangkan dari kerangka acuan audit. Terdapat perbedaaan penekanan terhadap audit atas penerimaan kas. Yaitu identifikasi kelemahan struktur pengendalian intern yang meningkatkan kemungkinan terjadinya fraud/kecurangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan auditor terhadap hal ini antara lain:
    • Menentukan apakah kas yang diterima telah dicatat; ini adalah jenis defalkasi uang yang paling sulit dideteksi auditor. Prosedur yang lazim dilakukan adalah menelusuri dari nota pembayaran yang prenumbered atau daftar penerimaan kas ke jurnal penerimaan kas dan buku tambahan piutang, dengan catatan bahwa pengujian ini akan efektif kalau kas didaftar di cash register tape
    • Menyiapkan pembuktian atas penerimaan kas; Untuk menguji apakah seluruh penerimaan kas telah disetor ke rekening bank. Prosedur yang lazim dilakukan adalah rekonsiliasi bank
    • Pengujian  untuk menemukan lapping piutang usaha. Lapping adalah menangguhkan pencatatan penerimaan piutang untuk menyembunyikan adanya kekurangan kas. Biasanya pengujian ini dilakukan kalau diyakini auditor bahwa struktur pengendalian intern penerimaan kas lemah, antara lain ditandai dengan tidak adanya pemisahan tugas antara orang yang menerima pembayaran dari pelanggan dengan orang yang mencatat penerimaan dari piutang tersebut.
  • Pertimbangan utama yang harus diperhatikan dalam pos piutang tak tertagih adalah keberadaan dari penghapusan piutang tak tertagih. Pengujian dilakukan untuk mengetahui adanya kemungkinan klien untuk menutupi defalkasi atas kas dengan menghapus piutang yang telah ditagih dan membebankannya ke pos ini. Yang harus diperhatikan terhadap pengendalian intern pos ini adalah otorisasi yang pantas atas penghapusan piutang oleh tingkat manajemen yang telah ditentukan setelah suatu penyelidikan general tentang alasan mengapa pelanggan tidak dapat membayar.
  • Pengendalian intern penjualan dan penerimaan kas di luar dari lima transaksi yang berkaitan dengan siklus tersebut, yaitu nilai yang dapat direalisasi (realizable value), hak dan kewajiban, serta penyajian da pengungkapan. Realizable value merupakan unsur yang penting, karena kolektibilitas piutang sering menjadi perhatian utama suatu business entity. Pengendalian yang lazim adalah:
    • Persetujuan kredit oleh orang yang berwenang,
    • Penyiapan neraca saldo piutang usaha menurut umur oleh orang yang berwenang dan direview dengan semestinya
    • Kebijakan penghapusan piutang yang tidak tertagih.